Langsung ke konten utama

Software CMMS

Software CMMS umumnya terdiri dari 2 modul utama : Preventive Management dan MRO (Maintenance Repair Overhaul).

Preventive Management

Preventive Maintenance adalah sistem penjadwalan pengecekan dan perbaikan mesin yang dilakukan secara periodik, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang parah sehingga dapat menggangu aktivitas produksi. Melalui pemanfaatan prosedur Preventive Maintenance yang baik, di mana terjadi koordinasi yang baik antara orang-orang produksi dan maintenance maka :


1 . Kerugian waktu produksi dapat diperkecil.
2. Biaya perbaikan yang mahal dapat dikurangi atau dihindari.
3. Kondisi mesin akan lebih terkontrol.


MRO

Maintenance, Repair, Overhaul adalah modul untuk mencatat semua kerusakan mesin yang telah terjadi dan langkah perbaikannya.

Bermanfaat untuk analisa:

  • Total waktu kerusakan mesin.
  • Sparepart yang digunakan untuk perbaikan.
  • Big Trouble (Dashboard).
  • PIC Maintenance yang memperbaiki kerusakan.
  • Waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan.
  • Dengan adanya Trouble History maka dapat dilihat kerusakan-kerusakan yang sering terjadi sehingga dapat dimasukan ke dalam Preventive Maintenance untuk mencegah kerusakan tersebut terulang lagi.

Informasi lebih lanjut : Hatohebi CMMS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warung Kopi

Satu hari, seperti biasa saya datang ke satu Perusahaan Manufaktur di Bandung dan berbincang-bincang dengan personil gudang komponen. Kemudian personil gudang berkata : ".. Gudang kita menerapkan sistem Warung kopi". Lha bagaimana itu, saya baru pernah dengar sistem itu. Begini Pak, di gudang kita, kalau orang produksi atau maintenance butuh barang, mereka datang ke gudang, langsung teriak "...Bearing 1..", tanpa membawa Bukti Permintaan Barang atau sejenisnya. Barang keluar dulu, nanti sore, baru buat administrasinya. Perusahaan ini sudah mendapat Sertifikasi ISO 9000! Makanya saya sering sekali berkata Sertifikasi ISO is just a marketing tool. Jangan bangga dengan itu dalam konteks dengan Administrasi intern. Setelah masuk keluar gudang di banyak Perusahaan, baik kecil, maupun besar, ternyata banyak yang menerapkan Sistem Warung kopi ini. Beberapa tahun lalu, saya memberikan Workshop gudang di Perusahaan Manufaktur besar Jepang di Bogor. ...

Apakah Stokopname sampling dapat dilakukan?

Satu hari saya masuk ke Perusahaan Manufaktur, katakan Perusahaan A.  Di  Departemen Logistik saya melihat Deskripsi kerja seorang stafnya. Pada Deskripsi kerjanya saya lihat salah satu tugas rutinnya adalah Stokpname sampling 10 kode barang per hari di gudangnya. Sekilas stokopname sampling 10 kode barang per hari tampak mudah. Bagaimana menurut Anda?    Kemudian saya tanya ke Staf Logistik tersebut apakah stokopname sampling ini berjalan, sudah tidak jalan katanya. Mengapa? Saya akan jelaskan jawabnya.   Penyimpanan satu kode barang di gudang Perusahaan A ternyata tersebar di beberapa lokasi dalam satu gudang. Jadi misalnya 10 kode barang yang akan distokopname sampling adalah kode barang : A, B, C, D, E, F, G, H, I, J. Saat Staf Logistik masuk ke gudang untuk melakukan stokopname sampling kode barang pertama yang akan distokopname adalah kode barang A, Staf Logistik akan pergi ke lokasi kode barang A biasa disimpan, katakan stoknya ada 10 pcs, maka akan dicat...

Wah, Jadi Lama

Suatu hari saya masuk ke dalam Gudang, membawa barcode scanner cordless. Saya berkata kepada personil gudang (checker yang memeriksa barang jadi dari produksi) :  "Kita akan segera menggunakan scanner ini untuk memeriksa barang yang masuk dari produksi". Checker gudang tsb, langsung menjawab "waahh jadi lama meriksanya". Di gudang tsb, satuan barang adalah dus, dan ditumpuk di atas palet. Karena keterbatasan tempat, setiap palet isinya campur. Langsung saya jawab : "Baik, bagaimana kalau kita adu cepat dan akuratnya pemeriksaan barang, saya menggunakan scanner dan Ibu secara manual seperti biasa ?". Tantangan diterima, saya yang mulai dulu memeriksa 1 palet dus campur, 1 palet isinya 50 dus, saya scan 1 per 1, waktu total yang dibutuhkan 1-2 menit. Kemudian saya persilahkan seroang personil gudang memeriksa secara manual, namun saya berpesan : "Label tiap dus harus dibaca, karena dusnya campur". Saya hitung waktunya, kurang lebih 15 men...